impian ku
Ya, itu merupakan kalimat yang sering kali kita dengar, terutama saat2 kita kuliah atau kerja. Lihat aja, pasti kita merasa lebih capek kalo nunggu atau bengong dibandingkan dengan sibuk mengerjakan sesuatu. Namun, tulisan saya ini merupakan pengalaman pribadi saya beberapa bulan yang lalu, saat saya baru lulus kuliah.
Tempatku dulu
Seringkali saya dengar celetukan teman yang bilang, si Nina itu beruntung banget ya, lulus langsung kerja, ditempat yang bonafit lagi. Atau si Nina hebat ya, perasaan gampang banget pindah-pindah kerjaan. Baru keluar dari OT, langsung dapet kerja disono. Hmmm… semua celetukan itu saya jawab dengan senyum atau ketawa. Dalam hati saya jawab: kelihatannya sih seperti itu, dia ga tau gimana gw slama ini..hehehee…
Saya tidak mau berpanjang-panjang dengan celetukan-celetukan itu. inti saya menulis hari ini adalah kebingungan saya dalam pekerjaan saya sehingga saya ingin menulis. (saya menulis disela-sela waktu kerja lho..hehe.. ) Saya akui memang tidak ada pekerjaan yang mudah, pasti semua ada kesulitan atau ada capeknya. Sehingga kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya sering bertanya pekerjaan apa yang gampang? Sekarang saya sudah tahu jawabannya.
Nah, pasti kalian juga pernah merasakan bagaimana beratnya kuliah atau capeknya kerja ya kan? Dan seringkali juga ingin bolos atau mengajukan surat resign sehingga dapat terhindar dari beban pekerjaan atau tugas. Saya akui, saya sering mengalaminya. Namun bedanya sekarang, saya merasa sudah sedikit bijak dalam menanggapi emosi saya tersebut.
Saya ceritakan dahulu, saat saya bekerja di perusahaan bonafit di Bandung dengan posisi yang bagus juga gaji yang tinggi. Namun, saya keluar dengan waktu yang singkat +/ 2 bulan. Ya waktu yang sangat singkat sehingga saya harus dari Nol lagi berjuang di Jakarta seperti sekarang ini.
Lalu, apa yang saya ingin angkat dari pengalaman saya tersebut. Banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari keputusan saya resign dari tempat lama saya di Bandung. Yang pertama adalah culture shock. Ya, saya akui mungkin saya terlalu manja atau terlalu cemen dalam menghadapi perubahan ritme hidup. 1-2 bulan pertama setelah lulus mungkin saya masih mengacu pada pola mahasiswa yang santai, sehingga saat kerja (apalagi tempat kerjanya langsung skala besar dan banyak kerjaan) alhasil lelah otak dan badab jadi lebih sering terjadi (baca:nangis..hehe)
harus tabah dengan kondisi Jakarta
Yang kedua, saat emosi jangan ambil keputusan. Saya alami sendiri lho, saya resign karena emosi saat keluhan saya ditanggapi dingin oleh atasan saya. Tetapi saya tetap bersyukur kok, dan tidak menyesal keluar, karena hidup di Jakarta terasa lebih berharga dan enak mengingat tipikal workaholic seperti saya. Bukan maksud merendahkan daerah lain, suasana dan ritme masyarakat Jakarta saya akui bagus untuk saya demi mengasah mental kerja saya. Contohnya, saya sangat senang saat pagi hari saat saya berangkat kerja, ternyata orang lain juga seperti itu atau anak sekolah yang sibuk berangkat sekolah. Semua serba teratur dan cepat. Positifnya, saya bisa belajar ikut ritme kerja kantoran dan lebih bersyukur ternyata kerjaan saya sekarang jauh lebih mudah bila dibandingan rekan saya lainnya (berangkat jam setengah6 demi menghindari macet). Yaahh..saya beranggapan, kehidupan saya sekarang dapat menjadi modal saya kedepan (untuk hidup di luar negeri..hehehe…)
tanya diri anda, kapan saatnya anda layak berpindah posisi!
Yang ketiga dan utama adalah seperti judul tulisan ini. Lebih baik capek karena bekerja daripada nganggur. Saya merasakan sendiri bagaimana galau dan resahnya saat menganggur di rumah. Ya, memang kesalahan saya kenapa saya resign sebelum fix diterima kerja di tempat lain. Alhasil, saya menganggur hampir 1 bulan. Disitulah saya pikir kedewasaan saya mulai diasah. Dan itu akan menjadi pelajaran saya untuk ke depannya.
Nah sekarang bagi kalian yang belum bekerja, mungkin pengalaman saya ini masih belum/kurang mengena ketika kalian membaca, namun saya ingin menekankan satu hal: bersyukur adalah jalan terbaik dari segalanya, tetapi bukan merupakan alasan bagi kita untuk stuck diposisi yang sama selamanya. Kita harus terus naik hingga posisi teratas dong.. namun semua ada waktunya. Biar diri kita dan waktu yang menjawab. Tanya ke diri kita, sudah siapkah saya berpindah posisi sekarang?? Itu kuncinya..
Selamat berusaha dan semoga sukses..
Nina_naga23112011
Gambar: danikaizen.blogspot.com, dianeaninditya.wordpress.com, lowongankerjaterbaru2011.net, lienaaifen.com





2 komentar:
umm,, inspiratif sekali sahabt gw..... hehe
hahhahaaa...kebaca dehh....
Posting Komentar